• Berkas

  • Kategori

  • Foto Collection

    JERAPA BESI

    BLUE & WHITE

    SMILE

    BATMAN IN THE WATER

    BMW F1 Singapore

    Lebih Banyak Foto

Titik Kemuliaan Ibu Rumah Tangga

Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan ia adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.” 
 
Marilyn Monroe , menulis sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga supermodel paling  populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satu kutipan dalam suratnya  tersebut sebagai berikut:
 
 “.Waspadailah popularitas wahai wanita.Waspadailah setiap kegemerlapan yang menipumu. Saya adalah wanita termalang di  muka bumi ini, sebab saya tidak bisa menjadi seorang ibu.  Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah  utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mulia  di atas segalanya. Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang  hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia dan  suci, bahkan kehidupan berumah tangga adalah simbol  kebahagiaan wanita dan manusiawi.”Marilyn Monroe tak sendirian. Kini, banyak kaum perempuan barat mengikuti penyesalan Marilyn Monroe. Penyesalan ini lahir dari banyak hal yang telah mereka lakukan di luar  fitrah mereka. Mereka menyesal atas kesibukannya di luar  rumah. Karena kesibukan mereka di luar rumah, keluarga  mereka menjadi rentan dihinggapi berbagai masalah

Penyelewengan, perselingkuhan suami istri, adalah masalah dominan yang kerap mengunjungi mereka. Karenanya,  kegoncangan kehidupan rumah tangga, penyelewengan pendidikan  anak yang menyebabkan mereka terlantar dan sengsara menjadi  pelengkap penyesalan mereka. Tentu, secara fitrah, tak adaseorang wanita (ibu) yang tak menangis hatinya saat melihat  anak-anaknya memiliki moral yang rusak, bebas berzina, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain. Tapi, inilah yang terjadi di barat sana.
Kaum wanita yang hidup dalam liberalisme barat mulai menyadari bahwa persamaan, kesetaraan, dan kebebasan yang didengungkan banyak kaumnya di negeri mereka, sebetulnya telah merampas kebahagiaan mereka sendiri.

MONROE berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, ia  menyatakan sendiri bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita  adalah ketika ia mampu menjadi ibu, yang berkiprah total  dalam kehidupan rumah tangga dan keluarganya. Berkhidmat dan taat sepenuhnya kepada suami, melahirkan anak, mendidiknya,membesarkannya, menjadikan mereka generasi yang taat kepada orangtua, dan generasi penerus perjuangan yang akan mampu mewujudkan peradaban mulia.
 
Tentu, Monroe dan banyak kaum wanita yang kemudian menyadari kekeliruannya selama ini, melihat sebuah kemuliaan dalam status itu. Dan, secara tidak langsung, ia menyanggah bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita ada dalam gemerlapnya harta, tingginya kedudukan, pesatnya karier, dan lain-lain.
 
Sesungguhnya, yang Monroe lihat adalah sebuah kebenaran yang menempatkan wanita, terutama ibu, dalam posisi yang sangat mulia. Seorang bijak mengatakan : “Anda yang beraktivitas di luar rumah,baik Anda sebagai dokter, dosen di perguruan tinggi, atau profesi-profesi akademis lainnya yang pada tempatnya tentu relevan, tetap harus memberikan kiprahnya di dalam rumah. Masalah keibuan, status sebagai istri, rumah dan rumah tangga, semuanya merupakan hal amat fundamental dan vital. Anda bukanlah wanita yang sempurna jika Anda tidak menangan urusan di dalam rumah. Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan itu ialah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.”

Dr. Mien Uno, salah seorang tokoh perempuan negeri ini mengungkapkan hal senada. “Saya menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah karir yang sangat terhormat. Akan tetapi,  banyak masyarakat kita yang berpendapat bahwa status ibu  rumah tangga bukanlah karir karena tidak bergerak dalam  lingkup publik. Saya tidak mengerti yang dimaksudkan dengan lingkup publik. Bagaimanapun, menurut pendapat saya, justru  ibu rumah tangga adalah posisi yang sangat terhormat karena dia melingkupi faktor-faktor sosial dengan keluarga, dengan masyarakat. Dia peletak dasar agama, kemudian sebagai  seorang pendidik yang baik. Karenanya, dia berkarir sebagai ibu rumah tangga.”

Sebuah puisi dari Chages, Challenges and Choices: Women in Develompent in Papua New Guinea, mungkin menjadi daftar lanjutan layaknya posisi ibu rumah tangga mendapat tempat terhormat dan mulia. Berikut bait-bait puisi yang dimaksud:
 
 Istriku Yang Tidak Bekerja
 Suatu ketika
 Siapa yang mengerik sagu?
 Siapa merawat ternak itu?
 Menjadi tumbuh dan menjual makanannya
 Hingga keluarga bertahan
 Siapa menimba air di sumur?
 Merawat dan menyayang anak-anak itu?
 Merawat yang sakit?
 Yang pekerjaannya menghabiskan waktu
 Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik
 dengan temannya?
 Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak?
 Yang perjuangannya
 Tak terlihat
 Tak terdengar
 Tak dihargai
 Tak terbantu
 Membantu pembangunan?
 Siapa peduli untuk bilang
 Benarkah Istriku tidak bekerja?
 
Keterhormatan profesi ibu rumah tangga tentu tidak berhenti di titik itu. Sorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka haru  menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu ruma tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum memint sesuatu darinya.  Seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan  aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta  tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.
 
Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan memerlukan kelayakan yang cukup. Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut hak dan mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggungjawab, tidak layak mendapat tempa  terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi terhina?

Batam,

2 April 2008, sumber unknown

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: