• Berkas

  • Kategori

  • Foto Collection

    JERAPA BESI

    BLUE & WHITE

    SMILE

    BATMAN IN THE WATER

    BMW F1 Singapore

    Lebih Banyak Foto

SULIT MATI

Alqamah merupakan sosok sahabat Nabi Muhammad SAW yang taat dan ajin beribadah, salatnya tak pernah telat, berpuasa dan bersedekah. Namun pada saat kematiannya Alqamah sangat menderita.

Begitu sulit dia hendak menghadap Allah ta’ala. Mulutnya seperti terkunci untuk mengucapkan kalimah tauhid sungguh pun setelah ditalqin atau diajarkan oleh para sahabat Nabi.

Peristiwa ini disampaikan kepada Rasulullah SAW. Setelah mendengar kabar itu Nabi bertanya apakah Alqamah masih memiliki kedua ibu bapak yang masih hidup? Sahabat menjawab: “Wahai Rasulullah! Alqamah mempunyai seorang ibu yang sudah tua.”

Kemudian Nabi SAW mengutus seseorang untuk pergi berjumpa ibu Alqamah dan menyampaikan pesan bahwa sahabat akan menjemputnya untuk bertemu Nabi jika ibunya itu mampu untuk berjalan. Namun jika tidak mampu berjalan, Nabi
sendiri yang akan datang menjumpainya.

Ternyata ibu Alqamah bersedia datang menemui Rasulullah SAW. Setelah tiba Rasul bercakap-cakap dan menanyai sikap sang anak kepada sang ibu. Ibu Alqamah menjawab: “Aku marah kepadanya wahai Rasulullah! Dia [Alqamah] lebih mengutamakan isterinya dari pada aku dan mendurhakai aku.”

Lalu Rasul bersabda: “Sesungguhnya kemurkaan ibu Alqamah telah mengunci lidahnya hingga tidak bisa mengucapkan syahadat.” Kemudian Nabiyullah SAW memerintahkan Bilal bin Rabah mengumpulkan kayu bakar sebanyaknya.

Si ibu bertanya: “Wahai Rasulullah! Tuan hendak buat apa dengan kayu api yang banyak ini?” Rasul menjawab: “Aku akan membakar Alqamah.”

Maka pada saat itulah, cinta seorang ibu yang telah lama terkubur dalam hatinya mulai hidup dan bersemi kembali. Sang ibu berkata: “Wahai Rasulullah! Alqamah anak saya, aku tidak tega melihat anakku dibakar di hadapanku.”

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai ibu Alqamah! Azab Allah lebih pedih dan lebih lama. Jika engkau mau Allah mengampunkannya, engkau relakan dosanya, engkau maafkanlah dia. Demi diriku berada di dalam kekuasaan-Nya, shalat yang dikerjakan Alqamah, puasanya dan sedekahnya tidak akan memberi manfaat apa-apa kepadanya jika engkau tidak mengikhlaskannya. “

Ibu Alqamah pun berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku bersaksi di hadapan Allah, para Malaikat-Nya dan orang-orang Islam yang hadir ini, bahwa aku ikhlaskan dosa anakku Alqamah.”

Rasulullah SAW pun segera memerintahkan Bilal pergi melihat Alqamah, apakah dia sudah mengucapkan kalimah tauhid. Mungkin ibu Alqamah hanya mengungkapkan keihklasannya hanya di bibir saja tetapi tidak sepenuh hati, karena tak enak saja pada Nabi SAW. Lalu Bilal pun pergi melihat Alqamah, dan didapatinya Alqamah mengucapkan kalimah tauhid. Setelah itu ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tenang.

*Teka-teki*

Sebagaimana halnya rezeki dan jodoh, kapan manusia mati, dengan cara bagaimana dia mati, memang menjadi rahasia Allah, mengingat Dia jugalah yang menciptakan.

Persoalannya kapan seseorang mati memang manusia tak mampu menebak dan memprediksi, apalagi menentukan. Kalaupun ada yang bisa, sangat bisa dipastikan hanyalah bualan semata.

Terkait dengan penyakit yang diderita mantan Presiden Soeharto yang konon sudah memasuki periode sangat krisis, mengingatkan kita pada Alqamah, di mana Bapak Pembangunan Orde Baru ini tak kunjung sembuh dari penyakitnya, bahkan bertambah parah. Setelah melewati masa perawatan sejak tanggal 4 Januari 2008 silam, hingga kini 25 dokter yang merawatnya belum bisa memastikan kapan sang penguasa selama 32 tahun ini sehat atau meninggal dunia.

Secara klinis sebenarnya Soeharto dapat dikatakan sudah mati, atau Menkes Siti Fadhilah Supari lebih suka menggunakan istilah Soeharto menjalani kehidupan palsu selama lebih dari 11 hari ini. Tim dokter kepresidenan menggunakan istilah peluang hidup mati Soeharto 50% berbanding 50%. Beragam istilah untuk fenomena yang sama.

Seperti diungkapkan tim dokter kepresidenan, kehidupannya amat sangat tergantung oleh mesin yang menyedot cairan di paru-paru, alat cuci darah untuk menjaga fungsi ginjal dan detak otot jantung kanan yang lemah serta tidak sinkron. Hanya otak dan sistem pencernaan saja dari lima organ vital Soeharto yang berfungsi nyaris normal. Paru-paru, ginjal dan jantungnya berfungsi di bawah standar normal.

Sehingga tim kedokteran sejak akhir pekan lalu mengambil kebijakan untuk menidurkan Soeharto untuk mencegah perburukan situasi kesehatannya berlanjut. Bandingkan mantan PM Israel Arial Saron yang ditidurkan oleh tim dokternya selama lebih dari dua tahun, hingga kini menjalani hidup koma.

Dalam ilmu kedokteran, upaya yang dilakukan dokter terhadap pasien yang sakit parah ada dua kemungkinan, yakni mengusahakan kesembuhannya atau mempertahankan usianya. Dalam kasus pasien istimewa ini tampaknya tim dokter kepresidenan tengah mempertahankan usianya.

Memang ada analisis klenik yang mengatakan bahwa Pak Harto ‘ngelmu’ dari banyak guru atau sang dukun, sehingga orang-orang tua dulu mengatakan orang yang banyak ngelmunya, matinya susah. Entahlah apa yang akan terjadi, yang jelas semua teka-teki ini hanya Gusti Allah saja yang bisa menjawab.

*Pro kontra*

Perawatan kesehatan Seoharto terbilang mewah jika dibandingkan dengan mantan Presiden Soekarno, karena proklamator itu hanya dirawat oleh satu dokter on call (hanya datang jika ditelepon) dan satu perawat. Itu pun di bawah pengawasan dan pengawalan ketat. Soeharto yang dirawat secara simultan oleh 25 tim dokter (belakangan disebut 40 dokter) kepresidenan menjalani masa-masa sulitnya.

Di tengah situasi yang sangat kritis ini muncul pro dan kontra mengenai prospek kesembuhan Jenderal Besar itu. Terutama pro kontra soal status hukum pidana dan perdata yang mewacana: pidananya dimaafkan, tapi perdatanya dilanjutkan.

Yang pro tentu mengatakan segala jasa dan perjuangan Soeharto, terutama dalam segi pembangunan, membuatnya layak mendapatkan pengampunan atas kesalahannya di masa lalu. Dalam kaitan ini diusulkan konsep deponeering, atau pengampunan hukum dengan melihat kondisi Soeharto yang sangat kritis. Usul ini dimotori oleh Partai Golkar, partai yang dibentuk dan dibesarkan Soeharto di masa lalu.

Sementara itu, bagi yang kontra terbagi dua: Pertama, sebaiknya proses hukum dilanjutkan dan segera diputus sebelum Soeharto wafat. Segera setelah itu dilakukan deponeering sebagai balas jasa bangsa atas jasa-jasanya. Keputusan hukum ini penting sebagai preseden hukum yang baik.

Kedua, proses hukum dilanjutkan karena sudah banyak korban pelanggaran HAM–penghilangan nyawa–di masa pemerintahan Soeharto. Ini dari sisi pidana.

Sementara dari sisi perdata, arus utama opini yang berkembang menginginkan agar tetap dilanjutkan dengan terlebih dahulu melakukan audit atas seluruh aset Soeharto, keluarga, dan kroninya di dalam dan di luar negeri.

Sebab pelaku korupsi baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama haruslah bertanggung jawab terhadap korupsi yang dilakukan. Artinya, semua kekayaan yang diperoleh dari hasil korupsi selama ini oleh siapapun termasuk keluarga dan kroni Soeharto dan yang lainnya haruslah dikembalikan kepada negara.

Hanya kuasa hukumnya yang dipimpin Otto Cornelius Kaligis yang mengusulkan agar kasus perdatanya ditempuh cara perdamaian tanpa menyerahkan aset sama sekali.

Di tengah opini yang semuanya berlandaskan hukum dan sama-sama kuat, kecuali mungkin dasar hukum OC Kaligis, memang membingungkan siapapun dalam pengambilan keputusan, terutama pemerintah. Itu sebabnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak semua pihak untuk menghentikan dulu wacana penegakkan hukum dan mendahulukan upaya penyembuhan atas mantan Presiden Soeharto.

Pernyataan presiden itu keluar segera setelah Jaksa Agung Hendarman Supanji menyatakan proses hukum (pidana) Soeharto dihentikan demi hukum dengan dikeluarkannya Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Perkara (SKP3) pada 12 Mei 2006. Sementara itu, kasus perdatanya tengah diupayakan melalui metode out of court settlement.

Siti Hardianti Rukmana sendiri dalam jumpa pers menyatakan agar bangsa Indonesia dapat memaafkan Pak Harto dengan melihat pembangunan yang telah ditempuhnya hingga bangsa ini bisa memiliki Indonesia seperti sekarang ini.

Soeharto memang belum meninggal, namun tanda-tanda ke arah sana cukup besar. Bahkan pihak keluarga telah menyiapkan Astana Giri Bangun untuk tempat persemayaman yang terakhir, lengkap dengan nametag wartawan. Artinya, kematian itu sudah di depan mata, walau memang vonis akhir ada pada Allah ta’ala.

Lepas dari hiruk pikuk opini yang melingkupi hari-hari terakhir Soeharto ada baiknya pihak keluarga dan bangsa ini melakukan introspeksi, terutama menengok kasus Alqamah. Ada baiknya Mbak Tutut mewakili keluarga meminta maaf pada bangsa ini, sementara komponen bangsa dengan legowo memaafkan kepergian Soeharto.

Menegakkan hukum itu baik, tapi memaafkan jauh lebih baik. Mengaku salah itu baik, tapi meminta maaf itu jauh lebih baik. Sudah saatnya bangsa ini membangun akhlak mulia guna menutup sejarah masa lalu yang kelabu.
*posted by DJONY EDWARD*

Batam, 19 Januari 2008

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: