• Berkas

  • Kategori

  • Foto Collection

    JERAPA BESI

    BLUE & WHITE

    SMILE

    BATMAN IN THE WATER

    BMW F1 Singapore

    Lebih Banyak Foto

Budaya Beransai – Bansai

Kata kunci kite berikut ini adalah Beransai.
Beransai dianggap cara bersantai atau relaks gaya Belitong. Syarat umum Beransai adalah apabila pekerjaan beres, perut kenyang dan pikiran tenang.

Prosesi Beransai dilakukan pada siang hari saat, duduk dilantai atau beralaskan tikar lalu bersandar pada tiang atau dinding rumah sambil meluruskan kedua kaki. Komposisi tersebut lalu diperindah dengan sentuhan akhir dari keramahan alam berupa angin semilir sepoy-sepoy. Beransai pun menjadi sempurna dan klimaksnya, manusia berbahagia itupun akhirnya tertidur.

Kebiasaan Beransai ini mungkin muncul seiring dengan peradaban rumah panggung berlantai papan. Susunan papan yang sering merenggang karena mengkerut menciptakan celah yang secara tidak sengaja membuat sirkulasi udara semakin baik. Udara dari bawah kolong rumah ( beruman) naik melalui celah lantai lalu berputar di dalam rumah dan keluar melalui pintu, jendela. Sirkulasi udara ini nantinya akan mempengaruhi kenikmatan beransai.

Kenikmatan Beransai juga menghasilkan ungkapan “Bansai” atau banzai ( Jepang ) yang berarti mantap, oke atau sip.

Berdasarkan siklus angin dan cuaca, peluang beransai akan banyak terjadi pada musim angin Timur yang lembut kalau tidak salah bulan Juni – Juli. Secara gender, wanita juga lebih banyak beransai dibandingkan laki-laki mengingat aktivitas ini dilakukan siang hari disaat ibu-ibu telah selesai melaksanakan pekerjaan rutin rumah tangganya ( bebasun, beringkas, nyesa, ngenjemor dan mentanak).

Aktifitas beransai kadang diperindah dengan aktifitas budaya lain yaitu Mengkutuan. Sebuah bentuk interaksi sosial kaum wanita berupa kegiatan mencari kutu rambut secara berjamaah. Belakangan budaya ini bisa dikatakan bergerak menuju kepunahan. Alasannya, selain dianggap agak ketinggalan jaman dan tidak ‘high tech’, juga terganggu kelestariannya oleh peredaran shampo dan obat pembasmi kutu.

Baik atau buruk, modernisasi dan kepraktisan memang seringkali menjadi penyebab dari punahnya sebuah budaya. Budaya beransai mungkin diganti dengan duduk diskusi malas sambil nonton TV dalam dekapan dinginnya AC.

Contoh lain, Budaya Ngendirikan Telasar pada prosesi hajatan/begawai sekarang sudah tergantikan perannya oleh budaya sewa menyewa tarub/tenda.

Budaya Berage dan Makan Sedulang yang mengandung unsur pelayanan, penghormatan dan kebersamaan perlahan-lahan terkikis oleh budaya prasmanan ( makan care Prancis ) tanpa layanan-tanpa penyajian alias mengambil sendiri-sendiri ( individu ).

Berkaitan dengan perlindungan terhadap budaya Belitong, salah satu kiat yang mungkin bisa kita lakukan adalah dengan senantiasa menghidupkan dan menarik nilai moral, filosopi dan tujuan budaya itu di buat. Tujuan budaya itulah titik kekuatan dari suatu budaya. Seringkali sebuah budaya lenyap karena tujuan, nilai moral dan filosopi yang tidak jelas. Selain itu, konsep modernisasi, kemajuan, kepraktisan, efektifitas, efisiensi dan ekonomis perlu dicermati agar jangan sampai terlampau mengintervensi atau bersinggungan dengan ‘wilayah’ budaya.

By : Sudharmayudha ( Belitong ML )

Batam, 4 Dec 2007

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: