• Berkas

  • Kategori

  • Foto Collection

    JERAPA BESI

    BLUE & WHITE

    SMILE

    BATMAN IN THE WATER

    BMW F1 Singapore

    Lebih Banyak Foto

Kerusakan Lingkungan Belitung:Kita Memang Nggak Pernah Bersiap

Kepedulian kite dengan masa depan Belitong, tentu keprihatinan kite
semue. Persoalan kerusakan lingkungan di Belitong pun bukan persoalan
baru, malah sangat lama, mungkin sudah lebih setengah abad.

Pertama, bekas galian timah, yang reklamasinya baru terprogram dan
terkontrol setelah PT Timah melakukan efisiensi (dengan PHK massal
tentu). Artinye, fokus ke masalah lingkungan oleh perusahaan yang
menaungi periok lebih separuh penduduk Belitong, baru terjadi pada
awal tahun 90-an. Ini sangat memprihatinkan.

Masalah penambangan kaolin pun, yang telah membuat sebagian sungai di
Belitong jadi kepo, pun gak pernah ditengok. Yang kite tahu, oooo
sungai aik rayak la kepo, artinye di bagian hulu ade pabrik kaolin.

Sekarang kite semue juga tahu, kalok liwat jeramba lalu ngeliat aik
sungai dan bekomentar, “mak ai la makin itam aik sungai kite ne.”

Kite semue tahu itu, keluarge yang di Belitong, anggota dewan, bupati
dan para pembantunye, bahkan kite pun kalok balik lebaran ke belitong
selalu melihat itu, kemudian marah-marah sendiri.

Perenggu semue, di era sekarang ini kesadaran akan makna pentingnya
lingkungan bagi kehidupan, memang baru pada tataran menengah,
menengah dan atas –kelompok ini bukan merupakan gabungan dari banyak
variabel yakni pendidikan, ekonomi, komunikasi– , lingkaran grass
root malah tak tahu persoalan lingkungan. Kepekaan atas kondisi
lingkungan akhir-akhir ini adalah hasil interaksi kelompok masyarakat
di atas dengan dunia luar, hasil dari membaca, mendengar,
membandingkan dan melihat. Hingga mudah untuk memahami persoalan,
lalu menjustifikasi bahwa lingkungan sudah parah dan mengancam masa
depan.

Nah, sebagian besar perenggu kite di Belitong –yang maaf adalah
berada di tingkat grass roots, hanya melihat saja. Tidak tahu akan
ancaman ke depan karena tidak mampu membandingkan. Hal ini erat
kaitannya dengan kondisi ekonomi, pendidikan malah komunikasi
terbatas. Kondisi ini tentu berbeda dengan –misal Bung Awaluddin
yang bisa lihat internet tiap hari tanpa terlalu banyak perlu
memikirkan urusan perut terlalu serius, karena sudah terpenuhi.

Yang jadi masalah justru adalah kita yang tahu informasi. Bung-bung
semue, dengan begitu banyak informasi yang kita terima selama ini,
justru secara tak sadar kita sudah berhasil dicekoki oleh penguasa
dunia saat ini yang notabene adalah negara G-7, dengan panglima Paman
Sam tentu. Mereka juga secara konsisten menyisipkan isu tersebut
dalam MDG’s (Millenium Development Goals).

Akhir-akhir ini yang paling ramai adalah pemanasan global. Semua
media menulis dan mempublikasikan persoalan pemanasan global. Patut
kita semua ketahui, di tangan G-7 lah yang hanya terkonsentrasi 20%
penduduk dunia menguasai 80% penduduk dunia belahan lainnya.

Berikut ada bahan sikit mengenai hal tersebut:

Dunia 20:80

Pada akhir 1995, di Hotel Fairmont, San Fransisco, dalam satu diskusi
500 politisi dunia terpandang, para pengusaha terkemuka di dunia (
Ted
Turner
–pemilik CNN, Washington SyCip -pengusaha terpandang di Asia
Tenggara dll, serta pemikir termasyhur di dunia berkumpul dan
mendiskusikan “Orientasi Pemikiran Global Baru”.

Dipicu oleh John Gage, yang mempropose “hubungan teknologi dan
pekerja global ekonomi dunia”, hingga muncul pemikiran penyederhanaan
masa depan oleh orang-orang pragmatis di Fairmont, dengan kata
kunci “20:80” dan “tittytaintment” . Hingga muncul pula pemikiran
Wahintong SyCip bahwa, 20 persen dari penduduk akan mencukupi untuk
mempertahankan perekonomian dunia. “Lebih banyak tenaga manusia tidak
akan dibutuhkan lagi,” ugkap Washington.

Seperlima dari seluruh pencari kerja sudah cukup untuk memproduksi
seluruh barang dagangan yang dibutuhkan dan memberikan pelayanan jasa
bernilai tinggi yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia. Hanya 20
persen orang inilah, di negeri mana pun, akan secara aktif
berpartisipasi dalam kehidupan, pendapatan dan konsumsi.

Lalu akankah 80 persen orang yang bersedia bekerja dibiarkan tanpa
pekerjaan? Menjawab pertanyaan tersebut seorang penulis Jeremy Diskin
dalam salah satu karyanya Das Ende der Arbeit (Tamatnya pekerjaan)
menyatakan, “mereka yang masuk 80 persen ini akan mendapatkan masalah-
masalah sangat besar”. Masalahnya di masa depan adalah ‘to have lunch
or be lunch’, memakan atau jadi makanan. Dari diskusi ini
menggambarkan bahwa pengangguran akan menjadi masalah besar di masa
depan.

Sedang masalah “tittytaintment” , menurut H Z Brzzinski, seorang
kelahiran Polandia yang selama empat tahun menjadi penasehat keamanan
dalam negeri Presiden AS Jimmy Carter, sebagai campuran antara
hiburan, riuh rendah dan sandang pangannya tercukupi, sehingga
membuat seluruh penduduk dunia yang frustasi dapat dikontrol
perasaannya agar tidak meledak.

Sepanjang tiga hari diskusi para manajer top dunia itu membahas
bagaimana seperlima masyarakat dunia yang makmur dapat mengendalikan
sisa masyarakat dunia lainnya. Sebab tekanan persaingan global yang
sedemikia rupa sehingga mereka menganggap tidak masuk akal
mengharapkan suatu komitmen sosial dari bisnis-bisnis perseorangan.
Hingga seseorang lain harus mengurus masalah pengangguran.

Pada intinya mereka selama tiga hari berdiskusi mulai mengkhawatirkan
datangnya sebuah masyarakat “dua pertiga” yang tidak lagi melukiskan
bagaimana kesejahteraan dan posisi sosial akan dibagi-bagikan. Model
dunia (baru) di masa akan datang adalah sebuah dunia 20:80, sebuah
masyarakat dengan yang seperlima akan tertarik ke atas, dan mereka
yang tidak mendapat tempat harus dijinakkan dengan “tittytaintment” .

Salah satu dampak paling kuat globalisasi adalah munculnya trend
pembangunan kota-kota dunia dengan teknologi tinggi. Padahal
pembangunan ini akhirnya hanya akan menamba jumlah ‘pulau-pulau
kemewahan’ yang tersisolasi. Dunia pada akhirnya akan menghasilkan
ketegangan-ketegang an yang diakibatkan oleh semakin lebarnya jurang
pemisah antara yang kaya dan miskin. Kota-kota yang megah tersebut
berubah menjadi kota-kota kusam, dimana ketimpangan antara si kaya
dan si miskin yang tinggal di berbagai daerah kumuh perkotaan sangat
besar, dimana miliaran penduduknya hidup miskin sekali.

Seiring dengan itu kekuasaan penguasa perdagangan dunia pun makin
menjadi-jadi. Pada 1996, seluruh kekayaan dari 358 miliarder di dunia
jumlahnya sama banyaknya dengan kekayaan 2,5 miliar penduduk bumi
lainnya. Bantuan negara-negara industri ke negara dunia ketiga pun
makin berkurang. Jerman, misalnya, pada 1994 mereka masih membantu
0,34% dari seluruh ekonominya. Namun, pada 1995, jumlahnya tinggal
0,31%, atau berkurang sekitar 10 persen. Namun jumlah hutang negara-
negara berkembang malah meningkat hingga 1,94 miliar USD pada 1996
dan itu bertambah hampir dua kali lipat dari sepuluh tahun sebelumnya.

Perhatian dunia kepada masalah-masalah sosial di dunia pun berkurang.
Kota-kota di antara Sierra Leone da Kamerun, misalnya, menjadi kota
paling berbahaya di dunia pada malam hari. Di Ibukota Pantai Gading
sepuluh persen dari penduduknya menderita HIV/AIDS positif.

Manakala 95 persen peningkatan penduduk dunia terkonsentrasi di
daerah-daerah paling miskin, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah
terjadi perang baru, tetapi perang melawan siapa? Di jazirah Arab,
misalnya, pada 1995, sebanyak 17 dari 22 negara di jazirah itu
melaporkan telah terjadi kemerosotan ekonomi, padahal dalam dua
dasawarsa kemudian kemungkinan jumlah penduduknya akan berlipat dua.
Sementara di beberapa wilayah banyak yang kekurangan air, seperti di
Asia Tengah, Mesir dan Ethiopia.

Jika di Fairmont Hotel, San Fransisco, para elit dunia menghitung
akan terbentuknya masyarakat 20:80 di negara-negara yang kini makmur.
Namun kenyataan bahwa, kekuatan yang dilepaskan globalisasi akan
semakin jelas dan tegas. Seperlima negara-negara terkaya menguasai
84,7 persen dari gabungan GNP dunia; warganya menguasai 84,2 persen
dari seluruh perdagangan dunia dan menguasai/memiliki 85,5 persen
dari seluruh tabunga-tabungan uang dalam negeri. Sejak 1960 jurang
antara yang paling kaya dan yang paling miskin dari seperlima bangsa
di dunia telah menjadi dua kali lipat – yang sejatinya adalah
menunjukkan sekaligus menegaskan kebangkrutan janji
keadilan/kejujuran dalam bantuan pembangunan ekonomi.

Dewasa ini perhatian mengenai masalah lingkungan hidup telah menjadi
lebih penting dibanding lowongan pekerjaan dan masalah sosial
lainnya. Namun pola eksploitasi sumberdaya alam global sejak
konferensi PBB tentang lingkungan dan pembangunan di Rio de Jenairo
pada 1992 tidak mengalami sedikit pun perubahan. Sebanyak 20 persen
negara-negara yang paling kaya mengonsumsi 85 persen dari seluruh
kayu dunia, 75 persen logam dan 70 persen dari energi dunia.

Di Rio de Jenairo di hadapan PBB semua negara industri sepakat untuk
mengurangi beban gas buang (emisi) pada bumi. Namun, janji-jani itu
tak ada artinya, sebab kebutuhan energi dunia pada 2020 akan
bertambah dua kali lipat. Emisi gas-gas rumah kaca akan bertambah 45
sampai 90 persen. Saat ini penduduk Uni Eropa menghabiskan 1,5 persen
dari GNP-nya dalam kemacetan lalu lintas. Sementara di Bangkok
mencapai 2,1 persen.

Sementara itu industrialisasi di negara-negara berkembang sedang
bergerak maju dengan ketidaktahuannya tentang ekologi yang sangat
mencemaskan. Kota-kota Cina memuntahkan awan beracun yang luar biasa
besarnya membentang lebih dari seribu mil di atas Pasifik. Di dekat
Chengdu, asap hitam-putih yang tanpa tersaring mengalir sepuluhan mil
dari ribuan tempat pembakaran kapur dan pabrik batu bata. Lebih buruk
lagi di Lembah Kathmandu, Nepal yang sangat tersohor keburukannya
udaranya mempengaruhi selaput lendir yang hanya terjadi di kota-kota
besar.

Akibat keseragaman yang dipaksakan dan “dipadatkan” , kapan saja bisa
disaksikan di layar kaca. Hampir setiap waktu gambar-gambar standar
hidup negara-negara pusat industri utama dunia, kaum muda yang lapar
akan kehidupan membelakangi negeri mereka sendiri –yang tidak
mempunyai apapun untuk ditawarkan kecuali kemiskinan– dan bersiap-
siap berangkat ke tanah yang dijanjikan.

Orang-orang dari kondisi yang lebih buruk berduyun-duyun menyeberangi
Rio Grande masuk ke Amerika Serikat yang sudah penuh sesak. Atau
menyeberangi Mediterania memasuki Eropa yang dilanda kiris lowongan
kerja. Sudah pada tahun 1970-an sebanyak 20 persen dari Algeria teaga
kerja telah berimigrasi, dan bersama dengan 12 persen orang Maroko
dan 10 persen orang-orang Tunisia telah mencapai usia kerja.

Evakuasi, perampingan pemutusan hubungan kerja, ekonomi dengan
kemampuan tinggi dan teknologi menggerus habis lapangan pekerjaan
masyarakat. Hanya dalam tiga tahun (1991-1994) lebih dari satu juta
lapangan kerja di Jerman lenyap di dalam industri Jeman Barat. Di
negara-negara lain yang tergabung dalam OECD (satu organisasi
beranggotakan 23 negara industri kaya ditambah lima negara tetangga
lebih miskin), jumlah lapangan kerja yang beruah lebih baik berkurang
jauh lebih cepat. Pada 1996 lebih dari 40 juta orang di negeri OECD
gagal mendapatkan pekerjaan. Kesejahteraan massa dengan cepat
menghilang dalam negara-negara yang paling terkemuka dalam
perekonomian dunia.

Setelah mempelajari penilaian yang dilakukan OECD, Bank Dunia dan
lembaga Global Mc Kinsey maupun sejumlah besar laporan sektor
perdagangan perusahaan, berkesimpulan bahwa 15 juta pekerja krah
putih dan krah biru di Uni Eropa akan terus mencemaskan pekerjaa
penuh waktu mereka dalam tahun-tahun mendatang.

Angka tersebut hampir sama dengan pengangguran tercatat di Jerman
pada 1996. Di Jerman saja lebih dari 4 juta tempat kerja berada dalam
keadaan gawat. Jumlah pengangguran dapat berlipat dua dari 9,7 persen
menjadi 21 persen atau dari 7,3 persen menjadi 18 persen di Austria.
Diperkirakan akan banyak pekerjaan yang aman akan hilang karena
digantikan oleh pekerjaan paruh waktu, pekerjaan sementara menurut
panggilan dan berbagai bentuk pekerjaan berupah rendah. Betapapun
penghasilan dipindah-pindahkan dari satu pekerjaan paruh waktu
lainnya, akan jauh lebih rendah daripada yang diterima dalam sistem
tawar menawar kolektif seperti sekarang. Masyarakat 20:80 semakin
mendekati.

Oke perenggu, dengan hegemoni negara-negara adi kuasa di dunia,
rasanya isu lingkungan yang didengungkan sekarang ini adalah
kecemasan dari mereka bukan kita. Misalkan terjadi pemanasan global,
yang pertama kali mengalami kerugian sangat besar adalah mereka
semua. Sementara kita mungkin tidak.

Lalu apa artinya semua ini? Kita semua mungkin secara tidak langsung
telah berhasil dibodohi oleh mereka. Lalu ikut pula berteriak nyaring
tentang lingkungan. Padahal tindakan kita justru melindungi
kepentingan mereka –secara ekonomi. Itulah namanya kejahatan dunia.

Untuk kite urang Belitong, tentu banyak yang bisa dan harus
dilakukan. Tapi kesadaran untuk memperbaiki lingkungan bukan karena
latah, tapi karena memang kita penting. Bertindak bukan karena latah
apalagi dibodohi, tentu akan lebih bijak dan lapang menjalankannya.

By : BULE SAHIB ( Belitong ML )

Batam, 28 Nov 2007

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: